Hal yang semula aku lakukan karena terpaksa untuk menyelamatkan martabat orang tuaku ternyata begitu nikmat.Mungkin ini adalah kompensasi yang diberikan Tuhan atas pengorbananku. Bokep Dia mengerakkan pingulnya maju mundur dengan perlahan. Pak Broto sempat tersenyum begitu dia menyentuh memekku dari belakang, karena memekku ternyata sudah cukup basah.“Wah sudah basah nih, sudah kepingin ya?” katanya. Sesampai di rumah aku memberika belanjaanku kepada Mak yang bingung melihat ceceran air mani di bajuku. Kami sekeluarga harus menjual barang-barang berharga kami untuk biaya pengobatan dan membayar cicilan kredit ke bank. Aku hanya diam mematung di atas tempat tidurku, tak mapu untuk berkata apa-apa. Sambil terus mengawasi orang-orang yang sedang membuat sumur bor, Pak Broto menikmati “sarapan pagi” yang sedang aku berikan. Aku naik ke atas tubuhnya dan menancapkan kontolnya kembali ke memekku.




















