Tanpa berkata ba, bi, bu, ku gandeng tangan Winny, dia tak menolak, aku semakin berani untuk segera merangkulnya.“Gimana Win? Winny..” kataku ketika kami berpisah dan menuju kamar masing-masing.“Dah.. Bokep Winny mulai melenguh kenakan.“Oh.. Winny..” kataku ketika kami berpisah dan menuju kamar masing-masing.“Dah.. hangat kan? 30 waktu setempat, hawa di pegunungan itu semakin terasa dingin, satu persatu, sepasang demi sepasang, mereka mulai meninggalkan gardu pandang. Sebut saja teman saya tadi Winny. Mata kami saling memandang, dan Winny pun tersenyum.“Oke, Om, nggak usah lapor-laporan, ya” ucapnya pelan, kemudian aku pun membalas senyumnya.“Iya deh, Oreo, setujukan?”Akhirnya malam itu kami duduk-duduk untuk beberapa lama, ngobrol, sambil menikmati pemandangan dari gardu pandang, yang pada waktu itu Merapi telah diselimuti kabut cukup tebal.Jarum jam telah menunjukkan pukul 23.




















