Aku jadi terpukul-pukul dan terluka oleh bayanganku sendiri.Seperti biasa setiap pagi Warni pergi belanja ke pasar. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 3 dini hari. Bokep Pegangan tanganku pada kisi-kisi jendela itu luput. Bibir yang menggigit dengan gemas membuat Warni bergelinjangan meliak-liukkan tubuhnya bak ular kobra dalam tangkapan.Berikutnya adalah Warni yang ganti mematuk. Jiwaku sungguh-sungguh tergoncang. Adakah yang mencurigakan? Mungkin sekitar 3 ketokan pada daun jendela itu.Kemudian dia kembali bergegas ke pintu masuk rumah. Aku berdiri di atasnya dan melongok ke kisi-kisi jendela kamarku.Hampir saja aku jatuh terguling begitu aku menyaksikan apa yang telah kusaksikan. Aku benar-benar meraih kepuasan nafsu birahiku. Aku harus menyisihkan banyak saingan saat aku melamarnya.




















