Karena kami sama gilanya, jadi asyik. Bokep “memang lo enggak bisa liat, gue lagi ngapain,” jawabku cuek. “Habisnya elo berdua sama gilanya sih. Huh, menyebalkan aja Papaku itu. “Benar Wil?” tanyaku. “Habisnya elo berdua sama gilanya sih. Mataku yang sedang merem melek langsung menatapnya. Biasalah, ngabis-ngabisin duit Mama. Bibir bawahnya digigit-gigitnya dengan giginya. Adikku yang paling kecil, Toni. Aku baru pulang. Pakaian atasannya terbuka memamerkan buah dadanya yang masih kencang dan besar. Dia juga masih kuliah. Kalau waktu ada Papa enggak asyik. Ngapain luh?” tiba-tiba kudengar suara Mimi menegurku. Biasalah, ngabis-ngabisin duit Mama. Masing-masing kami dibelikan Mama mobil sebagai alat transportasi. Gila! Umurnya hanya lebih tua dua tahun dariku. Papa suka rese. “Baru pulang Tom?” kata Willy menegurku. Yang pasti sepanjang jalan menuju kamarku, pikiranku dipenuhi dengan kontol si Willy yang luar biasa itu.




















