Aku mulai menggerinjal-gerinjal. “Ouuhhh Don!” desahku.Temanku meraih tubuhku yang ramping. Bokep Enak kan?”Aku mengangguk. Temanku itu mulai menyelusupkan tangannya ke balik celana dalamku yang berwarna kuning muda.Dia mulai meremas-remas kedua belah gumpalan pantatku yang memang montok itu.“Ouh Ouuh Jangan, Don! Kita kan baru sampai di sini. Kemudian dengan sekali sentakan kasar, ia menarik lepas tali BH-ku, sehingga tubuh bagian atasku terbuka lebar, siap untuk dijelajahi.Tangannya mulai meraba-raba buah dadaku yang berukuran cukup besar itu. Semacam aliran aneh menjalari sekujur tubuhku.Antara sadar dan tidak sadar, kulihat temanku itu tersenyum. Rugi kan. Ibu jarinya mengurut-urut klitorisku dari atas ke bawah berulang-ulang. Temanku itu yang kaget terlempar ke lantai. Sejak saat itu aku bersumpah tidak akan pernah mau ke tempat-tempat seperti itu lagi.Sudah dua tahun berlalu aku dan ibuku hidup bersama dengan ayah dan adik tiriku, Rio, yang umurnya tiga tahun lebih muda dariku. Terasa suatu kenikmatan tersendiri pada syarafku




















