Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Bokep Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Ah. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Benarkan kesempatan itu lewat. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Shit! Lalu memegang pahaku, “Yang mana..?”Yes..! Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.“Balik badannya..!” pintanya.Aku membalikkan badanku. Ah mengapa begitu cepat.Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Sekarang sudah lebih lancar. Sudah tiga tahun, benda ini tak kurasakan Sayang. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Ini kesempatan kedua. Ia malah melengos. Ia tersenyum. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Jari tangan mulai dingin. Sebuah kisah bercinta atau ngentot (ML) dengan pekerja




















