Aku terkesiap menyaksikan zakar anak tiriku itu, yang memang jauh lebih “tinggi tegap” daripada penis ayahnya. Bokep Dan aku bergegas mengenakan kimono, tanpa mengenakan beha terlebih dahulu. “Iya Bunda.” “Ya udah simpan resinya di meja itu. Lalu terdengar suaranya ragu,
“Kalau saya berterus terang, pasti Bunda marah.”
“Gak,” sahutku,
“bunda janji, kamu ngomong apa pun bunda takkan marah.” Prima menatapku, masih bersorot sangsi. Bukankah cowok 18 tahunan itu telah kuanggap anak sendiri ? Ya…selama berbulan-bulan menjadi istri Kang Eman, tiada persoalan sekecil apa pun, kecuali hasrat birahiku yang terkadang menggeliat-geliat sendiri pada waktu suamiku sedang di luar kota. “Pri…bunda ingin kamu jawab sejujur- jujurnya ya,” kataku sambil menepuk lutut Prima yang saat itu mengenakan celana pendek abu-abu dan baju kaus oblong putih. Aku jadi bingung sendiri. Karena pasti ia akan tersiksa dibuatnya nanti. Tetapi sejak saat itulah sikap Prima jadi lain dari biasanya. Serta sempat menanyakannya pada sebuahpeluang, ketika Prima




















