Kudengar ia terisak pelan:
“matur nuwun sanget Kakek.. Tidak ada perlawanan. Bokep Naik turun gunung, masuk ke goa dan bertapa (ih, dinginnya minta ampun) dan dipaksa berpuasa mutih (hanya minum air dan nasi putih doang), empat puluh hari penuh. Dgn canggung dia menurut:
“buka lebar-lebar kakimu Cah Sara” kataku. Kini dia terbaring mengangkang, kemaluannya terbuka lebar seakan siap menerima segala kenikmatan duniawi. Pak Kartolo memeluk saya, menciumi saya, di bibir dan di badan juga..” dadanya naik turun, seakan sesak membaygkan impiannya yg luar biasa itu.Aku semakin panas mendengar ceritanya itu:
“apanya saja yg dia cium, Cah Sara?” tanyaku. Dgn canggung dia menurut:
“buka lebar-lebar kakimu Cah Sara” kataku. Aku mendeham:
“belum Cah Sara” kataku:
“Aku bilang semuanya. Lalu, dia tinggal menguasaimu saja..”mataku mendelik:
“mesakake banget (kasihan sekali) kowe Cah Sara..” si Juminten tampak sekok (shock) berat mendengar ucapanku yg meluncur seperti senapan mesin itu:
“terus bagaimana Kakek, tolong saya Kakek..” katanya seperti orang setengah sadar.Aku




















