Karena mereka memang membutuhkan uluran tanganku. Akupun blingsatan mendapat reaksi sensitif dari Nadira.Iya nich. Bokep he.., kataku dengan Nadira memancing. Kalau dijamin aku mau, yang penting yang miskin (maksudnya tanpa busana) tolong untuk Mas saja, jangan dimuat di media massa dan internet, jawab Nadira.Setelah sepakat, akhirnya aku janjian pemotretan dengan Nadira di salah satu hotel di bilangan jalan Pramuka, Jakarta Timur. Dengan sabar Nadira menyeka seluruh daerah senjata pamungkasku. Bosan ah.., ujarku menggoda.Godaanku disambut serius oleh Nadira. Jangan ditahan, jadinya nggak baik Mas. Aku terperangah melihat kemolekan tubuh Nadira yang memang Nadira, hampir saja kameraku terjatuh hanya karena memelototi tubuh putih mulus di hadapanku.Loh, kok bengong, ayo foto lagi apa nggak!, ujar Nadira membuyarkan imajinasiku.Oo, ya.. Kok keras amat?, tanya Nadira sambil memegang rudalku yang kencang sekali. Lho, kok tahu kalau aku fotografer?, kataku memancing.




















